ASWAJA MUDA BAWEAN

Kumpulan Hasil-Hasil Bahtsul Masail via Kajian Fikih Terapan [KFT]

KesehatankhitanQurbansholatThaharah

Mau mengajari anak Sholat tapi belum Khitan

3 Mins read

Sebagaimana maklum diketahui dalam literatur salaf bahwa orang tua berkewajiban mengajari dan memerintahkan anaknya untuk menjalani ibadah-ibadah fardlu beserta syarat rukunnya seperti shalat, puasa, dll. ketika si buah hati sudah berumur 7 tahun. Lebih dari itu, wajib juga mengajarkan amaliyyah syari’at yang tampak jelas (syarai’ al-zhahirah) seperti ajaran bersiwak.

Hasil gambar untuk bingung dengan mengajari anak sholat tapi belum khitan

Khitan

Suatu masalah terbersit dalam benak Pak Budi Mubarak. Suatu malam di saat beliau menelaah kitab Sullam At-taufiq, beliau merasa ada suatu kewajiban yang belum ia jalankan tepatnya kewajiban seperti di atas (memerintahkan anaknya shalat). Namun ia merasa bingung ketika akan memerintahkan anaknya untuk melaksanakan sholat, sementara anaknya belum di-khitan. Padahal anak yang belum di-khitan masih membawa najis di dalam kunclup-nya (Jawa). Sementara itu khitan belum diwajibkan jika belum berusiabaligh. Pak Budi bimbang, kalau tetap diperintah, apa ya tidak sama seperti memerintahkan orang shalat dengan membawa najis ?. Kalau tidak diperintahkan, padahal sangat jelas itu adalah kewajiban orang tua terhadap anaknya. Sempat terpikir di benak hati Pak Budi, apakah Ia wajib menyunat anaknya terlebih dahulu sebelum diperintahkan shalat.

Pertanyaan :

  1. Apa yang harus dilakukan Pak Budi sebagaimana dalam deskripsi di atas ? Apakah tetap wajib memerintahkan anaknya untuk shalat meskipun belum di-khitan, atau wajib di-khitan terlebih dahulu ?
  2. Sejauh mana batasan syarai’ al-zhahirah yang wajib diajarkan orang tua terhadap anaknya ?

 

Jawaban :

  1. Khilaf, menurut pendapat yang kuat tetap wajib memerintahkan Shalat meskipun belum khitan, dan menurut pendapat Imam Zarkasy dan Ali Syibro Malisi (pendapat lemah) ketika najis si tidak bisa di sucikan kecuali dengan khitan, maka harus dikhitan terlebih dahulu.
  2. Batasan Syariat Dhahirah adalah semua hal yang menyangkut perintah dan larangan Syariat, baik yang wajib, haram, sunnah, makruh. Seperti Sholat, bersesuci, zina, minum dengan berdiri, bersiwak dll.

إعانة الطالبين     رقم الجزء:       4     رقم الصفحة:    143

(قَوْلُهُ : فَيَجِبُ) أَيْ الخَتْنُ بَعْدَهُمَا : أَيِ اْلبُلُوْغِ وَاْلعَقْلِ فَوْراً. قَالَ فِيْ التُّحْفَةِ: إِلَّا إِنْ خِيْفَ عَلَيْهِ مِنْهُ فَيُؤَخَّرُ، حَتَّى يَغْلِبَ عَلَى الظَّنِّ سَلاَمَتُهُ مِنْهُ، وَيَأْمُرُهُ بِهِ حِيْنَئِذٍ اْلإِمَامُ، فَإِنْ امْتَنَعَ أَجْبَرَهُ وَلاَ يَضْمَنُهُ إِنْ مَاتَ إِلَّا أَنْ يَفْعَلَـهُ بِهِ فِيْ شِدَّةِ حَرٍّ أَوْ بَرْدٍ فَيَلْزَمُهُ نِصْفُ ضَمَانِهِ. وَلَوْ بَلَغَ مَجْنُوْناً لَمْ يَجِبْ خِتَانُهُ. اهـ. (قولـه: وَبَحَث الزركشي الخ) عِبَارَةُ فَتْحِ اْلجَوَادِ: وَبَحَثَ الزَّرْكَشِيُّ وُجُوْبَهُ عَلَى وَلِيِّ مُمَيِّزٍ تَوَقَّفَتْ صِحَّةُ صَلاَتِهِ عَلَيْهِ لِضَيْقِ اْلقُلْفَةِ، وَعَدَمِ إِمْكاَنِ غَسْلِ مَا تَحْتَهَا مِنَ النَّجَاسَةِ فِيْهِ نَظَرٌ، لِأَنَّهُ لَمْ يُخَاطَبْ بِوُجُوْبِ اْلغُسْلِ حَتَّى يَلْزَمَ وَلِيَّهُ ذَلِكَ. اهـ.

Melakukan Khitan hukumnya wajib apabila sesudah baligh dan berakal dengan kewajiban Faur (kewajiban yang tidak bisa ditunda lagi), Syeikh Ibnu Hajar dalam kitab Tuhfah  mengatakan “ kecuali apabila dihawatirkan terjadinya suatu hal yang tidak diinginkan, maka pelaksanaan Khitan bisa ditunda sampai ada dugaan kuat akan keselamatan anak yang dikhitan. Dan yang berkewajiban memerintahkan khitan adalah pemerintah, dan kalau yang bersangkutan menolak maka pemerintah boleh memaksanya bahkan meskipun sampai menyebabkan kematian maka pererintah tidak wajib bertanggung jawab kecuali jika pemaksaan khitan dilakukan dalam kondisi yang terlalu panas atau terlalu dingin hingga menyebabkan kematian maka barulah pemerintah ikut bertanggung jawab membayar sebagian denda. Dan Jikalau anak kecil mencapai usia baligh dalam kondisi gila maka tidak wajib dikhitan.

Redaksi kitab Fathil Jawad sebagai berikut : Imam al-Zarkasyi berpendapat bahwa wajib bagi orang tua atau wali dari anak kecil yang sudah Tamyiz untuk segera mengkhitankannya, jika khitan  tersebut menjadi satu-satu jalan agar sholat anak tersebut dihukumi sah mengingat ujung kemaluannya sangat sempit sehingga najis dibawahnya tidak bisa disucikan kecuali dengan dikhitan, akan tetapi kewajiban khitan ini (sebelum memasuki usia baligh) perlu dikaji ulang oleh sebab sang anak kecil belum terkena beban kewajiban membasuh najis hingga hal tersebut mewajibkan walinya untuk menghitankannya.

تحفة المحتاج في شرح المنهاج ج 9 ص 200

( وَيُنْدَبُ تَعْجِيْلُهُ فِي سَابِعِهِ ) أَيْ سَابِعِ يَوْمِ وِلَادَتِهِ لِلْخَبَرِ الصَّحِيحِ { : أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَتَنَ الْحَسَنَيْنِ رضي الله عنهما يَوْمَ سَابِعِهِمَا } . وَبِهِ يُرَدُّ قَوْلُ جَمْعٍ : لَا يَجُوزُ فِيهِ ; لِأَنَّهُ لَا يُطِيقُهُ وَيُكْرَهُ قَبْلَ السَّابِعِ فَإِنْ أَخَّرَ عَنْهُ فَفِي الْأَرْبَعِينَ وَإِلَّا فَفِي السَّنَةِ السَّابِعَةِ ; لِأَنَّهَا وَقْتُ أَمْرِهِ بِالصَّلَاةِ , وَفِي وَجْهٍ حُرْمَتُهُ قَبْلَ عَشْرِ سِنِينَ , وَرُدَّ بِخِرْقَةِ لِلْإِجْمَاعِ

( قَوْلُهُ : وَإِلَّا فَفِي السَّنَةِ السَّابِعَةِ ) أَيْ : وَبَعْدَهَا يَنْبَغِي وُجُوبُهُ عَلَى الْوَلِيِّ إنْ تَوَقَّفَتْ صِحَّةُ الصَّلَاةِ عَلَيْهِ ا هـ . ع ش

Sunnah menyegerakan pelaksnaan khitan pada hari ke tujuh dari kelahiran berdasarkan Hadits Shahih bahwa sesungguhnya Nabi SAW. mengkhitan Hasan dan Husain RA. pada hari ke tujuh dari kelahiran mereka. Dan dengan hukum sunnah ini tertolaklah pendapat sekelompok ulama’ bahwa khitan tidak boleh dilakukan pada hari ke tujuh tersebut dengan alasan belum kuatnya si anak kecil. Dan hukumnya makruh mengkhitan sebelum tujuh hari, lalu apabila ditunda dari tujuh hari maka pada hari ke empat puluh, jika tidak pada hari itu maka pada tahun ke tujuh karena masa itu adalah masa diperintahkannya si anak untuk melakukan shalat dan dalam suatu pendapat dikatakan bahwa haram hukumnya mengkhitan anak sebelum berumur sepuluh tahun namun pendapat ini ditolak oleh karena bertentangan dengan Ijma’ ulama’.

(kata  وَإِلَّا فَفِي السَّنَةِ السَّابِعَةِ ) maksudnya setelah si anak melewati umur tujuh tahun hendaklah wajib atas orang tua atau wali untuk mengkhitannya jika khitan tersebut menjadi satu-satunya solusi untuk mengesahkan shalat anak tersebut.

المجموع شرح المهذب – (1 / 26)

قَالَ الشَّافِعِيُّ وَاْلاَصْحَابُ رَحِمَهُمُ اللهُ عَلَى اْلآبَاءِ وَاْلاُمَّهَاتِ تَعْلِيْمُ أَوْلاَدِهِمْ الصِّغَارِ مَا سَيَتَعَيَّنُ عَلَيْهِمْ بَعْدَ اْلبُلُوْْغِ فَيُعَلِّمُهُ اْلوَلِيُّ الطَّهَارَةَ وَالصَّلاَةَ وَالصَّوْمَ وَنَحْوَهَا وَيُعَرِّفُهُ تَحْرِيْمَ الزِّنَا وَاللِّوَاطَ وَالسَّرِقَةَ وَشَرْبَ اْلمُسْكِرِ وَاْلكَذِبَ وَاْلغِيْبَةَ وَشِبْهَهَا : وَيُعَرِّفُهُ أَنَّ بِاْلبُلُوْغِ يَدْخُلُ فِيْ التَّكْلِيْفِ وَيُعَرِّفُهُ مَا يَبْلُغُ بِهِ: وَقِيْلَ هَذَا التَّعْلِيْمُ مُسْتَحَبٌّ وَالصَّحِيْحُ وُجُوْبُهُ وَهُوَ ظَاهِرُ نَصِّهِ …… وَدَلِيْلُ وُجُوْبُ تَعْلِيْمِ اْلوَلَدِ الصَّغِيْرِ وَاْلمَمْلُوْكِ قَوْلُ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ (يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا)

Berkata Imam Syafi’i dan santri-santri beliau semoga mereka mendapatkan Rahmat Allah : diwajibkan atas bapak-bapak dan ibu-ibu mengajarkan putra-putra mereka hal-hal yang akan menjadi kewajiban mereka kelak setelah mereka baligh, maka wali wajib mengajarkan mereka tatacara bersesuci, shalat, puasa dan semisalnya. Dan wajib pula memberitahu mereka keharaman zina, liwat, mencuri, minuman keras, berdusta dan menggunjing dan semisalnya. Dan wajib pula memberi tahu mereka bahwa dengan mencapai baligh berarti mereka telah memasuki taklif (terbebani ketentuan-ketuntuan syariat islam) dan memberi tahu mereka apa-apa yang dapat menjadikan mereka mencapai baligh, dan terdapat suatu pendapat (pendapat lemah) yang mengatakan bahwa mengajarkan ilmu ini adalah mustahab (sunnah) namun yang shahih adalah wajib. Adapun dalil wajibnya mengajarka anak kecil dan hamba sahaya adalah firman Allah yang artinya : wahai orang-orang yang beriman jaqalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka !.

إسعاد الرفيق ج 1 ص 73

{فَصْلٌ} فِيْمَا يَلْزَمُ أَوْلِيَاءَ نَحْوِ الصِّبْيَانِ وَفِيْ حُكْمِ تَارِكِ الصَّلاَةِ {يَجِبُ عَلَى وَلِيِّ الصَّبِيِّ وَالصَّبِيَّةِ اْلمُمَيِّزَيْنِ} مِنْ كُلٍّ مِنَ اْلأَبَوَيْنِ وَإِنْ عَلَا وَلَوْ مِنْ جِهَةِ اْلأُمِّ عَلَى اْلكِفَايَةِ فَيَسْقُطُ بِفِعْلِ أَحَدِهِمَا عَنِ اْلآخَرِ لِأَنَّهُ مِنَ اْلأَمْرِ بِالْمَعْرُوْفِ وَلِذَا خُوْطِبَتْ بِهِ اْلأُمُّ وَلاَ وِلاَيَةَ لَهَا ثُمَّ اْلوَصِيِّ فَالْقَيِّمُ فَالْمُلْتَقِطُ وَمِثْلُهُ السَّيِّدُ وَاْلمُوْدَعُ وَاْلمُسْتَعِيْرُ {أَنْ يَأْمُرَهُمَا} أَيِ الصَّبِيَّ وَ الصَّبِيَّةَ {بِالصَّلاَةِ} وَلَوْ قَضَاءً وَبِغَيْرِهَا مِنْ أُمُوْرِ الشَّرْعِ الظَّاهِرَةِ وَلَوْ سُنَّةً كَسِوَاكٍ وَيَنْهَاهُمَا عَن مَنْهِيَّاتِهِ وَلَوْ مَكْرُوْهًا كَالشَّرْبِ قَائِمًا وَلاَ بُدَّ مَعَ اْلأَمْرِ مِنَ التَّهْدِيْدِ لَكِنْ بِغَيْرِ ضَرْبٍ {وَ} أَنْ {يُعَلِّمَهُمَا} بِنَفْسِهِ أَوْ نَائِبِهِ أَحْكَامَهَا أى الصَّلاَةِ مِنْ شُرُوْطٍ وَأَرْكَانٍ وإنما يجب ذلك {بعد} أى عقب تمام {سبع سنين} إن ميزا كما فهم من قوله أولا المميزين بحيث يأكل كل منهما ويشرب ويستنجى وحده ولا يجب قبلها وإن ميزا لندرته قبلها …. {و} كذا {يجب عليه} أى الولى {أيضا} مصدر آض بمعنى رجع {تعليمهما} أى الصبى والصبية {ما يجب عليهما} بعد بلوغهما من كل ما يضطر لمعرفته من الأمور الضرورية المشترك فيها الخاص والعام وإن لم يكفر جاحدها ومنه ما مر أول الكتاب من العقائد {و} كذا تعليمهما {ما يحرم} عليهما كالجهل بما مر والزنا واللواط والغيبة والنميمة وغير ذلك مما يأتى بيانه إن شاء الله تعالى

Fashal : tentang kewajiban orang tua terhadap semisal anak kecil dan menerangkan hukum orang yang meninggalkan shalat.

Wajib atas wali dari anak kecil laki-laki atau perempuan yang kedua sudah Tamyiz, yaitu dari masing-masing bapak dan ibunya keatas walaupun dari jalur ibu, dengan kewajiban kifayah sehingga gugur apabila telah dilaksanakan oleh salah satu dari mereka. Dan oleh karena kewajiban ini bagian dari amar ma’ruf maka seorang ibu turut serta berkewajiban meskipan tidak ada hak wali baginya, kemudian orang yang diberi washiat, orang yang merawat, dan semisalnya adalah sayyid atau pemilik hamba, orang yang dititipi dan orang meminjam. Wajib atas mereka memerintahkan anak kecil laki-laki atau perempuan untuk melaksanakan shalat walau shalat qodla’ dan wajib pula memerintahkan hal selain shalat dari ajara-ajaran syariat dan lahiriyah walaupun hukumnya sunnah sebagaimana melakukan siwak. Dan wajib pula melarang mereka berdua dari larangan-larangan agama walaupun hukumnya sekedar makruh seperti minum dengan berdiri.

Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *