ASWAJA MUDA BAWEAN

Kumpulan Hasil-Hasil Bahtsul Masail via Kajian Fikih Terapan [KFT]

Perbandingan TafsirTafsir

Muqaranatul Tafasir: Penafsiran Surat Al-Baqarah ayat ke-62 menurut Ibnu Jarir Ath-Thabariy dan Asy-Syaukaniy

10 Mins read

Pengantar

Prof. Dr. Abdul Hayy Al-Farmawi menerangkan dalam bukunya Al-Bidayah fi At-Tafsir Al-Maudhu’i: Dirasah Manhajiyyah Maudhu’iyyah, bahwa dalam menggunakan metode muqaran atau komparasi diperlukan sistematika tertentu yang mesti ditempuh, antara lain mengumpulkan sejumlah ayat al-Qur’an, mengemukakan penjelasan para mufassir –baik itu kalangan salaf dan khalaf atau bercorak bi al-ma’tsur dan bi ar-ra’yi –, membandingkan kecenderungan tafsir masing-masing mufassir, dan menjelaskan siapa di antara para mufassir yang penafsirannya dipengaruhi – secara subjektif – oleh mazhab tertentu; siapa yang penafsirannya ditujukan untuk melegitimasi golongan atau mazhab tertentu; siapa yang penafsirannya diwarnai latar belakang disiplin ilmu yang dimilikinya, seperti bahasa, fiqih, atau yang lainnya; siapa yang penafsirannya didominasi uraian yang sebenarnya tidak perlu, seperti kisah-kisah yang tidak rasional dan tidak didukung oleh argumentasi naqliyyah; siapa yang penafsirannya dipengaruhi oleh paham-paham Asy’ariyyah, atau Mu’tazilah, atau paham tasawuf, atau teori-teori filsafat dan ilmiah.[1]

Metode tafsir komparatif (muqaran) ini memberikan kita informasi mengenai titik perbedaan dan persamaan antara satu aliran tafsir dengan aliran tafsir yang lain, seorang mufassir dengan mufassir lainnya, dan suatu metode penafsiran dengan metode penafsiran yang lain.

Termasuk dalam tulisan ini, metode tafsir komparatif (muqaran) akan coba digunakan dalam menafsirkan penggalan surat al-Baqarah yaitu ayat ke-62. Karya yang dipilih untuk dikaji dalam studi muqaran ini adalah Tafsîr Jâmi’ al-Bayân ’an Ta`wîl Ây al-Qur`ân karya Abu Ja’far Muhammad Ibnu Jarir Ath-Thabariy (224-310 H) dan Fathul Qadîr: al-Jâmi’ baina Fannay al-Riwâyah wa al-Dirâyah min ‘Ilm al-Tafsîr karya Muhammad bin Ali bin Muhammad Asy-Syaukaniy (w. 1250 H).

Alasan penulis memilih dua karya di atas diambil atas pertimbangan, sebagai berikut. Pertama, Kedua karya tersebut merepresentasikan dua model tafsir yang mewakili penafsiran awal (klasik) dan pertengahan (periode transisi menuju penafsiran modern). Kedua, Adanya kesamaan metodologi tafsir antara Ath-Thabariy dan Asy-Syaukaniy, yakni keduanya menggunakan metode penafsiran bil-ma’tsur.

Teks Ayat

إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ.

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Q.S. Al-Baqarah (2): 62)

Metodologi Tafsir

Metode Penafsiran Ibnu Jarir Ath-Thabariy

Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabariy tersusun dalam 30 juz besar. Kiitab ini sendiri pernah dikabarkan hilang keberadaannya, sampai kemudian Allah menetapkan kehadirannya kembali yang secara tiba-tiba, dan menjadi kabar gembira bagi aktivitas keilmuwan baik itu di Timur maupun di Barat. Keberadaan tafsir ini tersimpan baik di bawah kepemilikan al-Amir Humud bin al-Amir Abd Rasyd salah satu pemimpin Nejd. Naskah tafsir Ibnu Jarir yang ditemukan tersebut berada dalam kondisi yang masih sempurna dan lengkap. Kemudian tafsir ini dicetak dan diterbitkan hingga  sampai ke tangan kita sekarang.

Kalaulah kita menyimak perkataan para Ulama mengenai tafsir Ibnu Jarir, niscaya kita akan mendapati bahwa para pengkaji di Timur dan Barat telah bersepakat menetapkan keluhuran nilai tafsir tersebut. Mereka juga sepakat bahwa tafsir ini adalah rujukan yang harus ada bagi seorang sarjana tafsir. An-Nawawi berkata, “orang-orang telah bersepakat bahwasannya tidak pernah ada karya seperti Tafsir Ath-Thabariy.” Berkata pula Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Adapun tafsir-tafsir yang sampai ke tengah-tengah umat, maka yang paling sah ialah tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabariy, di dalamnya disebutkan perkataan-perkataan orang terdahulu (salaf) dengan sanad yang tsabit (kuat), tidak ada bid’ah di dalamnya, serta tidak ada penukilan dari orang yang dicurigai/tertuduh seperti Maqatil bin Bukair dan al-Kalbiy.

Metode Ibnu Jarir Ath-Thabariy dalam tafsirnya dapat diketahui dengan jelas, yakni dari ciri-ciri yang dapat kita perhatikan. Seperti, Ath-Thabariy ketika hendak menafsirkan ayat dari al-Qur’an, senantiasa berkata: (القول في تأويل قوله تعالى كذا و كذا) setelah itu beliau menafsirkan ayat dan menyampaikan riwayat  dari apa yang ia katakan, dengan sanadnya yang sampai kepada sahabat atau tabi’in sebagai perwujudan tafsir bil-ma’tsur.

Ibnu Jarir tidak membatasi diri hanya menggunakan riwayat semata dalam menafsirkan suatu ayat, sebagaimana kita dapati beliau menyodorkan bebrapa pendapat, dan mentarjih (menguatkan) sebagiannya dari yang lain. Seperti dalam perkara I’rob, jika keadaan menuntut hal itu, beliau mengistinbath (menyimpulkan) hukum yang memungkinkan diambil dari ayat, beserta argumentasi-argumentasinya dan mentarjih (menguatkan) yang beliau pilih (ikhtiar).[2]

Senada dengan pernyataan di atas,  Prof. Dr. Quraish Shihab menyodorkan pendapat lain yang berbeda dengan pendapat umumnya Ulama. Menurutnya, ath-Thabariy dalam menafsirkan tidak semata-mata mengandalkan riwayat-riwayat tetapi ia juga menggunakan nalarnya berlandaskan pengetahuan bahasa Arab. Keahliannya di bidang bahasa mendukung hal ini, karena itu dalam kitab tafsirnya, syair-syair pra-Islam dan sesudahnya dijadikan argumentasi terhadap arti yang dipilihnya bagi satu kata (lafadz) al-Qur’àn.[3]

Penafsiran Ibnu Jarir Ath-Thabariy atas Surat Al-Baqarah ayat ke-62

Ath-Thabariy menjelaskan ayat ke-62 pada surat al-Baqarah ini dengan bagian perbagian, kata perkata dengan memulai dari kajian bahasa kemudian argumentasi yang disertakan dengan riwayat yang menjadi sumber pengambilan argumen. Beliau menyebutkan bahwa “الذين آمنوا” ialah orang-orang yang membenarkan Rasulullah SAW terhadap apa yang beliau sampaikan kepada mereka berupa kebenaran yang datangnya dari sisi Allah SWT.

Sedangkan “الذين هادوا” ialah orang-orang Yahudi. Makna “هادوا” sendiri menurut ath-Thabariy ialah bertaubat. Asal-usul penamaan Yahudi diambil dari pernyataan dalam al-Qur’an “إِنَّا هُدْنَا إِلَيْكَ”.  Sebagaimana riwayat dari al-Qasim dari Husain, dari Hajjaj, dari Ibnu Juraij, “Sesungguhnya penamaan Yahudi dikarenakan mereka berkata, “إِنَّا هُدْنَا إِلَيْكَ” (sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau).

Kemudian dalam menafsirkan “النَّصَارَى”, ath-Thabary menyebut beberapa tafsiran diantaranya, kata itu berasal dari kata tunggal (mufrad/singular) “نصران” sebagaimana kata “السكارى” yang berasal dari “سكران”. Ketentuan ini berlandas pada aturan (kaidah) bahwa setiap penyifatan (نعت) yang kata tunggalnya ber-wazan “فعلان” maka kata majemuknya (jama’/plural) adalah “فعالى”. Namun dalam kasus penggunaan bahasa yang telah tersiar di Arab, kata tunggal dari “النَّصَارَى” adalah “نصراني”. Pendapat-pendapat lain yang dikutip ath-Thabariy antara lain menyebutkan bahwa ada juga bentuk majemuk “أنصار” yang semakna dengan “النَّصَارَى”. Yang lain mengatakan penamaan “النَّصَارَى” dikarenakan mereka adalah golongan yang berdiam di sebuah tempat yang disebut “ناصرة” (Nazaret) sebagaimana yang diriwayatkan dari al-Qasim, Husain, Hajjaj, dan Ibnu Juraij. Disebutkan pula penamaan tersebut berdasar ayat “مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ” (Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?). Dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas dari jalur Thariq dikatakan, penamaan  “النَّصَارَى” lantaran negeri Nabi Isa bin Maryam disebut Nazaret, dan penduduknya disebut Nashirin.

Ath-Thabariy juga mencantumkan sya’ir dalam memperkuat argumentasi kajian bahasanya mengenai asal-usul kata “النَّصَارَى” sebagai berikut.

تراه إذا زار العشي مُحَنِّفًا… ويضحي لديه وهو نصران شامس

فَكِلْتَاهُمَا خَرَّتْ وَأَسْجَدَ رَأْسُهَا … كَمَا سَجَدَتْ نَصْرَانَةٌ لَمْ تَحَنَّفِ

لَمَّا رَأَيْتُ نَبَطًا أَنْصَارَا… شَمَّرْتُ عَنْ رُكْبَتِيَ الإِزَارَا… كُنْتُ لَهُمْ مِنَ النَّصَارَى جَارَا

Setelah menafsirkan kata “النَّصَارَى”, berdasar runtutan teks ayat, ath-Thabariy kemudian menafsirkan kata selanjutnya yaitu “الصابئون”, yang merupakan kata majemuk dari “صابئ” yaitu yang mengadakan suatu agama baru selain agamanya, seperti orang yang murtad dari agama Islam atau dengan kata lain Shabi’un ialah setiap orang yang keluar dari suatu agama kepada agama yang lain. Ada pula yang mengatakan bahwa Shabi’un ialah kaum yang tidak beragama. Sebagaimana riwayat dari Hasan bin Yahya, Abdurrazaq, Sufyan, Laits, dan Mujahid, “Shabi’un bukanlah Yahudi bukan pula Nashrani, serta  mereka tidak beragama.” Yang lain mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang menyembah malaikat dan melaksanakan shalat menghadap qiblat, serta membaca kitab Zabur. Sebagaimana riwayat dari Muhammad bin Abdil A’la, Mu’tamir bin Sulaiman, ayahnya, Hasan, dan Ziyad.  Kemudian riwayat Bisyr bin Mu’adz, Yazid, Sa’id, dan Qatadah. Serta riwayat al-Mutsanna, Adam, Abu Ja’far, Rabi’, dan Abul ‘Aliyah. Riwayat lain dari Sufyan bin Waqi’, ayahnya, Sufyan, “as-Suddiy ditanya mengenai Shabi’un, maka ia menjawab, mereka adalah kelompok dari ahli Kitab.

Ath-Thabariy kemudian mengulas terusan ayat (من آمن بالله واليوم الآخر وعمل صالحا فلهم أجرهم عند ربهم) yaitu orang yang membenarkan dan mengakui kebangkitan setelah kematian pada hari kiamat, serta beramal shaleh dan ta’at kepada Allah, maka baginya ada pahala di sisi Tuhannya.

Kemudian ath-Thabariy mengajukan sebuah persoalan, jika ada yang bertanya mana kelengkapan ayat ini (إن الذين آمنوا والذين هادوا والنصارى والصابئين)? Maka jawabannya ialah kelengkapannya ialah kalimat (من آمن بالله واليوم الآخر), karena maknanya barang siapa beriman (منهم) diantara mereka kepada Allah dan hari akhir. Pembuangan kata (منهم) untuk menunjukkan perkataan yang sedang berlangsung sudah cukup dengan apa yang sudah disebutkan, sekali pun ada yang dibuang.

Tidak hanya sampai di sana, kemudia ath-Thabariy mengajukan persoalan-persoalan lain, apa makna dari perkataan dalam ayat tersebut? Maka, jawabannya bahwa maknanya ialah sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang Yahudi, Nashrani, dan Shabi’un barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka baginya ada pahala di sisi Tuhannya.

Lantas bagaimana orang-orang mu’min beriman? Jawabannya ialah makna pada kata “mu’min” bukanlah makna seperti yang dikira bahwa orang yang berpindah dari satu agama ke agama yang lain, umpamanya berpindahnya seorang Yahudi atau Nashrani kepada keimanan,  walaupun dikatakan bahwa orang yang digelari dengan hal tersebut, yaitu orang ahli kitab yang beriman kepada Nabi Isa a.s. sehingga mendapati Nabi Muhammad SAW. lalu beriman kepadanya dan membenarkannya, maka mereka disebut orang-orang mu’min (yang beriman) kepada Isa a.s.  kemudian beriman pula kepada Nabi Muhammad SAW beserta ajaran yang dibawanya. Akan tetapi yang dimaksud dengan keimanan disini ialah pengukuhan terhadap keimanannya dan meninggalkan penggantian dengan apapun.

Maka maksud sebenarnya dari ayat ini ialah keimanan Yahudi, Nashrani, dan Shabi’un dalam membenarkan Nabi Muhammad SAW serta apa yang dibawanya. Maka barang siapa di antara mereka beriman kepada Muhammad dan apa yang dibawanya, hari akhir, beramal shaleh, serta tidak pernah mengganti dan merubah lagi (keimanannya) sampai ia wafat, maka baginya pahala atas amalnya dan ganjaran di sisi Tuhannya, sebagaimana disebutkan yang Maha Agung sanjungan kepada-Nya.[4]

Penafsiran dan argumentasi ath-Thabariy ini, dengan sendirinya telah membantah anggapan dan praduga yang keliru beberapa kalangan yang menilai ayat ke-62 al-Baqarah ini sebagai wujud dari pluralisme beragama.

Semoga Allah menggugurkan dalih-dalih mereka yang benci terhadap Islam dan membuka hati kita dalam menerima cahaya dan keluasan Ilmu-Nya.

Metode Penafsiran Asy-Syaukaniy

Menurut Muhammad Husain adz-Dzahaby, tafsir Fathul-Qadîr termasuk sebagian tafsir yang pokok dan sumber atau referensi yang sangat penting (otoritatif), karena ia telah menggabungkan antara pola tafsir ad-Dirâyah dengan ar-Riwâyah, sehingga dapat mewujudkan pembahasan pola ad-Dirâyah sekaligus memperluas pola ar-Riwâyah. Hal ini karena penulis tafsir tersebut berpegangan kepada tafsir Abi Ja’far an-Nakhasy, Ibnu ‘Athiyyah ad-Dimasyqy, Ibnu ‘Athiyyah al-Andalûsy (w. 546 H), al-Qurthuby (w. 671 H), az-Zamakhsyari (w. 538 H.), dan yang lainnya.” (Adz-Dzahaby, at-Tafsîr wa al-Mufassirûn, cet ke-7, Juz II, s. 42-43.)

Asy-Syaukaniy dalam kitab tafsirnya menggabungkan antara tafsir bi al-dirayah dan bi al-riwayah. Serta bersandar kepada para mufassir sebelumnya, seperti, Abu Ja’far an-Nuhas, Ibnu ‘Athiyah ad-Dimasyqiy, Ibnu ‘Athiyah al-Andalusiy, al-Qurthubiy, az-Zamakhsyariy, dan yang lainnya.

Beliau  berkata, “aku memutuskan mengambil metode yang diterima oleh kalangan ulama terkemuka, lantas kemudian aku jelaskan petunjuk-petunjuknya, serta maksud dan sumber pengambilannya. Sesungguhnya para mufassir ghalibnya (umumnya) terpecah ke dalam dua golongan, pertama, yang membatasi diri pada tafsir dengan riwayat (bi al-riwayah), dan yang lainnya hanya bertumpu pada pikiran dan pandangan mereka baik dari tinjauan aspek kebahasaan (bahasa Arab), atau bidang keilmuwan lain tanpa menggunakan riwayat sama sekali. Meski demikian, masing-masing golongan telah bertindak tepat pada posisi masing-masing tertentu. Oleh karena itu, bisa disimpulkan bahwa menggabungkan keduanya adalah sebuah keharusan, serta menghilangkan pembatasan diri dalam menggunakan salah satu dari kedua metode yang ada.”[5]

Penafsiran Asy-Syaukaniy atas Surat Al-Baqarah ayat ke-62

Berbeda dengan Ibnu Jarir Ath-Thabariy, Asy-Syaukaniy menafsirkan ayat ke-62 surat al-Baqarah ini dengan memberikan terlebih dahulu makna global ayat. Menurut Asy-Syaukaniy, dari pembuka ayat yang dimulai dengan penyebutan “الذين آمنوا” mengindikasikan bahwa seolah-olah Allah Subhanahu wa Ta’ala hendak menjelaskan keadaan agama/ajaran Islam dan orang-orang sebelumnya dari seluruh agama merujuk kepada sesuatu yang sama, yaitu siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir serta beramal shaleh, ia berhak mendapat pahala sebagaimana yang Allah sebutkan. Dan siapa yang meluputkan itu semua, maka hilanglah seluruh kebaikan dan pahalanya baik yang sedikit maupun yang banyak. Dan tidak termasuk kriteria keimanan bagi orang yang berada di luar agama Islam. Maka barang siapa yang tidak beriman kepada Muhammad SAW dan al-Qur’an, ia bukanlah seorang mu’min. Dan barang siapa yang beriman kepada keduanya, ia menjadi seorang muslim yang beriman (musliman mu’minan) dan tidak tersisa  lagi ke-Yahudi-an, atau ke-Nashrani-an, atau ke-Majusi-an.

Lebih jauh lagi, Asy-Syaukaniy mengeksplorasi makna “الذين آمنوا” dengan menyebutkan bahwa yang dimaksud dengannya ialah orang-orang munafiq, berdasarkan dilalah (petunjuk) yang menjadikan mereka bersambung dengan Yahudi, Nashrani, dan Shabi’un, yaitu mereka beriman secara dzahir.

Menurut Asy-Syaukaniy makna “هادوا” ialah menjadi Yahudi, istilah ini sendiri merupakan nisbat mereka kepada Yahudza bin Ya’qub. Asy-Syaukaniy menyebutkan pendapat lain mengenai makna “هادوا”, yaitu orang yang bertaubat, maksudnya bertaubat dari penyembahan terhadap patung anak sapi. Sebagaimana Firman-Nya: “إِنَّا هُدْنَا إِلَيْكَ” (sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau). Pendapat lain menyebutkan maknanya ialah ketenangan dan ketentraman. Kemudian Asy-Syaukaniy juga mengutip pendapat Az-Zamkhsyari dalam al-Kasyaf, bahwa maknanya ialah masuk Yahudi.

Kemudian ia menjelaskan istilah “النَّصَارَى”, dengan mengutip beberapa pendapat ulama, antara lain. Menurut Sibawaih, bentuk mufradnya ialah “نصران ونصرانة” sebagaimana “ندمان وندمانة”. Al-Khalil mengatakan bentuk tunggalnya ialah “نصري”.  Al-Jauhariy mengatakan, Nashran adalah sebuah negeri di Syam yang dinisbahkan kepadanya “النَّصَارَى”, disebut pula Nazaret, dan “ya” di sana berfungsi sebagai nisbat. Kemudian disebutkan dalam al-Kasyaf, bahwa huruf “ya” berfungsi sebagai mubalaghah, seperti dalam “أحمري”, dinamai begitu karena mereka telah menolong al-Masiih.

Selanjutnya asy-Syaukaniy menafsirkan istilah Shabi’un, yaitu secara bahasa ialah orang yang keluar, dan berpindah dari satu agama ke agama lain.

Berbeda dengan ath-Thabariy, dalam menafsirkan sambungan ayat asy-Syaukaniy lebih kepada kajian kebahasaan, seperti, “مَنْ ءامَنَ بالله” ialah menempati posisi nasab sebagai badal dari “من الذين آمنوا” dan yang setelahnya. Atau boleh juga ia menempati posisi rafa’ sebagai mubtada’ dan khabarnya ialah “فلهم أجرهم”, yakni khabar  إن. Adanya huruf “fa” dalam khabar ialah supaya mubtada’ dapat mencakup pula makna syarat.[6]

Persamaan dan Perbedaan antara penafsiran Ibnu Jarir Ath-Thabariy dan Asy-Syaukaniy

Dari uraian di atas mengenai metodologi  penafsiran dan penafsiran itu sendiri antara Ath-Thabariy dan Asy-Syaukaniy, dapat diperoleh kesimpulan bahwa keduanya menempuh metode yang sama dalam menafsirkan yakni, menggunakan metode tafsir bil-ma’tsur (berdasar riwayat). Selain itu, keduanya juga menggunakan kajian bahasa yang mendukung pemahaman terhadap penafsiran kata perkata. Kajian bahasa dalam tafsir keduanya, merupakan bagian dari penafsiran dengan bi ar-ra’y (berdasar penalaran).

Sekali pun asy-Syaukaniy termasuk jajaran mufassir Zaidiyah, namun para ulama telah sepakat terhadap kedekatan aqidahnya dengan ahlu sunnah. Demikian juga Ath-Thabariy yang mendapat tuduhan sebagai syi’ah. Padahal beliau adalah tokoh ahlu sunnah terbesar yang ada.

Keduanya adalah mufassir yang memiliki kapabilitas tinggi dalam berbagai bidang keilmuwan, khususnya tafsir. Bahkan dalam bidang fiqih, keduanya bisa disejajarkan dengan mujtahid musta’qil selevel dengan Imam Hanafi, Malik bin Anas, Asy-Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal. Wallahu ‘Alam

 

Endnote:

——————————————————————————————-

[1] Dr. Abdul Hayy Al-Farmawi, Metode Tafsir Maudhu’i (terjemah), (Bandung: Pustaka Setia, 2002, Cet. Ke-I), hal. 39.

[1] Muhammad Husain Adz-Dzahabiy, at-Tafsir wa al-Mufassirun: Bahtsu Tafshiliy ‘an Nasy’ati at-Tafsir Tathawurihi wa  alwanihi wa Madzahibihi. (Kairo: Maktabah Wahbah, tth.) Juz 1, hal. 151.

[1] Quraish Shihab, Ibn Jarir Al-Thabary: Guru Besar Para Ahli Tafsir (Makalah).

[1] Ath-Thabariy. Tafsîr Jâmi’ al-Bayân ’an Ta`wîl Ây al-Qur`ân. (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah. 2005.)

[1] Muhammad Husain Adz-Dzahabiy, at-Tafsir wa al-Mufassirun…Juz II, hal. 212.

[1] Asy-Syaukaniy.. Fathul Qadîr: al-Jâmi’ baina Fannay al-Riwâyah wa al-Dirâyah min ‘Ilm al-Tafsîr. (Lajnah at-Tahqiq wa al-Bahts al-‘Ilmiy bi Daril Wafa’.Tth).

BIBLIOGRAPHY

Adz-Dzahabiy, Muhammad Husain. Tth. at-Tafsir wa al-Mufassirun: Bahtsu Tafshiliy ‘an Nasy’ati at-Tafsir Tathawurihi wa  alwanihi wa Madzahibihi. Kairo: Maktabah Wahbah.

Asy-Syaukaniy, Muhammad bin Ali bin Muhammad. Tth. Fathul Qadîr: al-Jâmi’ baina Fannay al-Riwâyah wa al-Dirâyah min ‘Ilm al-Tafsîr. Lajnah at-Tahqiq wa al-Bahts al-‘Ilmiy bi Daril Wafa’.

Ath-Thabariy, Abu Ja’far Muhammad Ibnu Jarir. 2005. Tafsîr Jâmi’ al-Bayân ’an Ta`wîl Ây al-Qur`ân. Beirut. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah.

[1] Dr. Abdul Hayy Al-Farmawi, Metode Tafsir Maudhu’i (terjemah), (Bandung: Pustaka Setia, 2002, Cet. Ke-I), hal. 39.

[2] Muhammad Husain Adz-Dzahabiy, at-Tafsir wa al-Mufassirun: Bahtsu Tafshiliy ‘an Nasy’ati at-Tafsir Tathawurihi wa  alwanihi wa Madzahibihi. (Kairo: Maktabah Wahbah, tth.) Juz 1, hal. 151.

[3] Quraish Shihab, Ibn Jarir Al-Thabary: Guru Besar Para Ahli Tafsir (Makalah).

[4] Ath-Thabariy. Tafsîr Jâmi’ al-Bayân ’an Ta`wîl Ây al-Qur`ân. (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah. 2005.)

[5] Muhammad Husain Adz-Dzahabiy, at-Tafsir wa al-Mufassirun…Juz II, hal. 212.

[6] Asy-Syaukaniy.. Fathul Qadîr: al-Jâmi’ baina Fannay al-Riwâyah wa al-Dirâyah min ‘Ilm al-Tafsîr. (Lajnah at-Tahqiq wa al-Bahts al-‘Ilmiy bi Daril Wafa’.Tth).

Power your team with InHype

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *